Selasa, 29 Maret 2011

cara menghindari konflik dengan anak

1. Abaikan tingkah laku yang tidak sepantasnya (berteriak, membenturkan kepala, menangis dengan berguling-guling) dengan tidak memberikan perhatian sama sekali (memandang, berteriak, atau berbicara). Cari kegiatan lain. Pastikan semua anggota keluarga/orang dewasa dalam ruangan itu mendukung kita dan mengabaikan anak tersebut. Bersiaplah memujinya pada saat dia menghentikan tindakan yang tidak pantas tersebut.
2. Tinggalkan sejenak bila anak sedang melampiaskan kemarahannya. Duduklah agak jauh sambil mengawasi dan melindunginya dari berbagai bahaya. Berikan kesempatan kepada anak dan orang tua untuk menenangkan diri.
3. Alihkan perhatian merupakan salah satu upaya untuk menghindari situasi bermasalah (rebutan mainan, bertengkar). Jika perkataan orang tua diucapkan dengan ramah, bersemangat, dan muka lucu maka anak akan menghentikan apa yang dilakukannya dan mengikuti saran kita.
4. Beritahukan tingkah laku alternatif jika seorang anak melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Biasanya anak-anak tidak akan berhenti mencari penyaluran atas kreativitas dan energi fisik saat mereka marah (corat-coret dinding, membanting benda). Ajari mereka untuk menemukan pengganti aktivitas seperti mainan ataupun kegiatan untuk mengatasi perilaku yang bermasalah.
5. Carilah segi positifnya dari perilaku anak, kemudian berikan pujian. Bila anak senang berkelahi maka katakan bahwa dia adalah anak yang kuat dan berani, sebaiknya…
6. Tawarkan pilihan kepada anak setiap hari. Cara ini dapat mendorong anak untuk berpikir dan memperoleh kekuatan pendirian yang sehat dan percaya diri dengan keputusan yang dibuat.
7. Gunakan rasa humor untuk meringankan ketegangan baik secara fisik maupun mental. Humor dalam mengasuh anak cenderung memasukkan unsur yang melebih-lebihkan dan hayalan. Ini tidak mahal, spontan dan mudah dilakukan. Dengan humor kita mengajarkan bahwa kita tidak perlu harus melakukan pekerjaan yang sempurna. Namun perlu pula diingat saat bercanda hindari kata-kata yang menyinggung perasaan anak seperti kondisi fisik ataupun kata-kata kasar/tajam.
8. Memberikan contoh tingkah laku yang sepantasnya melalui perbuatan, perkataan ataupun cara berpikir.
9. Tentukan perilaku apa saja yang tidak kita sukai, kemudian susun prioritas dan tindakan yang akan diberikan bila anak melakukan hal tersebut.
10. Tentukan batas usia yang pantas untuk aturan yang kita buat. Buatlah aturan yang fleksibel dan sesuai dengan usia serta kebutuhannya. Aturan yang diberikan kepada anak seharusnya dapat membangun tanggung jawab dan kemandirian anak dalam bertindak.