Minggu, 08 Mei 2011

KELALAIAN ORANG TUA MEMBUAT AKU SADAR

Tokoh
1. Diandra
2. Dika
3. Bapak Andi
4. Ibu Yuna
5. Kevin
6. Riska
7. Ratna
8. Deni
9. Erna
10. Putra
11. Nuro
12. Nita
13. Ibu hana

DISUSUN OLEH : KELOMPOK 1
KELAS : IX A


SMP NEGERI 3 PURWAKARTA
Jl. Jend. A. Yani No. 100 Purwakarta Telp. (0264) 200449
Periode 2010/2011






Prolog:

 (Suatu pagi di rumah kediaman Bapak Andi. Tepatnya di ruang makan, mereka sedang sarapan. Kecuali Diandra yang hanya diam)

Bapak Andi : (Melirik ke arah Diandra)”Cepat habiskan makananmu, sudah siang. Bisa bisa kamu
terlambat.”
Diandra : (Beranjak pergi meninggalkan orang tuanya)
Ibu Yuna : “Pamitan dulu sama orang tua sebelum berangkat. Gak sopan, hargai orang tua
kamu!”
Diandra : (Pergi tanpa pamit dengan muka kesal)
Bapak Andi : “ Lihat kelakuan Diandra, ajari dia sopan santun. Jadi ibu kok gak becus ngurus
anak. Jangan cuma ngurusin diri sendiri!”
Ibu Yuna : “ Apa kamu bilang? Diandra itu tanggung jawab kita berdua. Jangan cuma nyalahin
aku, sendirinya ke mana aja? Kalau mau ngomong harus dipikir dulu! (pergi dengan
kesal)
Bapak Andi : (Membanting sendok karena marah. Kemudian pergi ke kantor)

 (Diandra akhirnya sampai di sekolah dengan muka dan suasana yang masih kesal. Diandra duduk di bangku taman sekolah. Tiba – tiba Riska dan Ratna datang menghampirinya)

Ratna : (Mengagetkan Diandra)“ Assalamualaikum ! ! !”
Diandra : (Merasa kaget) “ Apa si ? Pake salam salam segala, sok banget.”
Riska : “Hahaha, kenapa si Yan? Marah marah mulu, orang salam kok dibentak. Jawab kek,
dosa tau.”
Ratna : “ Iya nih. Orang salam bukannya dijawab.”
Diandra : “Berisik ! Aku lagi kesel, ngerti. “
Riska : “Kesel kenapa?”
Diandra : “ Biasalah masalah orang tua.”
Ratna dan Riska : “ Yang sabar yan.”

 (Ketika Ratna, Diandra, dan Riska ngobrol. Dika datang menghampiri mereka sambil membawa sesuatu yang akan diberikan kepada Diandra)

Riska : “ Ehm, sang pujaan datang tuh.”
Ratna : “ Hahaha….. pujaan hati.” (Riska dan Ratna tertawa sambil berbisik)
Diandra : (Menengok ke arah dika) “ Heuh si cupu lagi, mau ngapain sih?”
Dika : “ Pa…pa pagi dian.”
Diandra : (Tidak menghiraukan dika)
Ratna dan Riska : “ Ehm.”
Dika : “ Pagi juga Ratna, Riska.”
Ratna dan Riska : (Serentak) “ Pagi…….”
Dika : “ Dian, a a aku punya sesuatu buat kamu.” (sambil menyerahkan coklat)
Ratna dan Riska : “Kok yang dikasih cuma Dian?”
Diandra : “ Maksudnya apa? Kamu nyuruh Aku makan itu coklat. Terus Aku sakit perut. Gitu?
Sory Aku gak butuh. Coklat kaya gitu bisa Aku beli sama pabrik – pabriknya.
(mengambil cokelat dan membuangnya ke muka dika). Kamu ambil tu cokelat, Aku
jijik makannya. Paling paling hasil mulung. (beranjak pergi meninggalkan dika).
Dika : (menunduk sedih)
Ratna : “ Yang sabar ya dik.”
Riska : “ Iya, omongan Dian jangn Kamu masukin ke hati. Dian emang kaya gitu. Tapi
orangnya baik kok.” (membela dian)
Dika : (Tersenyum ke arah Ratna dan Riska) “ Iya makasih ya.”
Diandra : (Menengok ke arah ratna dan riska) “ Woy, mau ikut gak?”
Ratna dan Riska : (berlari menghampiri Diandra)

 (Sementara mereka meninggalkan Dika, Dika masih merasa sedih. Tanpa disadari Dika, Deni dan Erna memperhatikan apa yang telah terjadi. Kemudian mereka menghampirinya)

Erna : “ Udah, jangan sedih.”
Deni : “Lagian Kamu kenapa sih berharap banget sama Dian. Udah tau anaknya kaya gitu,
lupain aja dia.”
Erna : (Menyenggol tangan deni) “ Ssst.., “
Dika : “ Aku tahu kalau sebenarnya Dian itu baik, cuma dia belum bisa untuk berbuat
baik.” (bangkit menuju kelas)

 (Setelah lama berbincang, Erna dan Deni pun mengikuti Dika menuju kelas)
 (Suasana di kelas begitu ramai. Jam pelajaran belum di mulai. Murid murid masih banyak yang bercanda. Tidak lama kemudian Kevin dan Putra pun masuk kelas. Kevin langsung menghampiri Diandra. Sedangkan putra bergabung dengan murid yang lain)

Kevin : “Pagi sayang.” (ketika Kevin menyapa Diandra, murid murid yang lain diam
memperhatikan, termasuk Dika)
Diandra : “Pagi juga sayang.”
Kevin : “Dah sarapan?”
Diandra : “ Belum.”
Kevin : “ Kenapa?”
Diandra : “ Gak nafsu, diem di rumah bikin Aku kesel.” (dengan wajah yang jutek)
Kevin : “ Kok gitu? Jangan gitu dong, meskipun Kamu kesel sama orang tua Kamu, tapi
Kamu jangan nyiksa diri Kamu sendiri.”
Diandra : (Cemberut) “ Tau ah, bawaannya bt.”
Kevin : “ Ya udah, ntar kita ke kantin. Tapi . . . Kamu yang bayar ya?”
Diandra : (senyum lebar) “Yap.”

 (Dika memperhatikan mereka dengan raut muka yang sedih. Kemudian bel tanda masuk pun berbunyi. Tidak lama kemudian, Ibu Hana guru bahasa masuk. Anak anak pun sibuk menuju tempat duduknya)

Ibu Hana : “ Selamat pagi anak anak”
Murid : “ Selamat pagi buu.”
Ibu Hana : “ Pada pertemuan kali ini, kita akan belajar tentang puisi. Sebelumnya, Ibu ingin
tahu siapa saja yang senang terhadap materi puisi. Tolong angkat tangan.”

(Para murid banyak yang mengangkat tangan)

Ibu Hana : “ Wah … ternyata di kelas ini hampir semuanya menyenangi puisi. Sangat bagus,
coba Ibu ingin tahu apa yang kamu suka dari puisi, Nuro?”
Nuro : (Merasa kaget karena namanya disebut) “ Eh, Saya suka menyampaikan pikiran
Saya ke dalam tulisan. Terutama puisi.”
Ibu Hana : “Kenapa?”
Nuro : “ Karena puisi itu memiliki bahasa yang sangat indah. Dan apabila kita
menyampaikan sesuatu lewat puisi, maknanya akan lebih terasa. Begitu Bu.”
Ibu Hana : “ Jawaban yang memuaskan. Terimakasih Nuro.”

(Nuro hanya tersenyum manis. Kemudian Dika mengangkat tangannya)

Ibu Hana : “ Ya dika, ada apa?”
Dika : “ Saya pun suka menulis puisi Bu.”
Ibu Hana : “ Bagus kalau begitu, bisa buatkan salah satu puisi?”
Dika : “ Bisa Bu. Saya perlu waktu 5 menit.”
Ibu Hana : “ Silahkan.”

 (Belum lima menit, dika telah selesai membuat puisi)

Dika : “Bu, Saya telah selesai membuat puisinya.”
Nita : “ Wah cepet banget Dik. Hebat kamu!”
Putra : “ Ah biasa aja, cuma bikin puisi doang. Citek.”
Nita :”Sok banget kamu putra. Bikin puisi itu susah, kita harus bisa menentukan diksinya,
belum yang lain. Dan Dika hanya mengerjakannya kurang dari 5 menit. Hebat kan?”
Putra : “ Yang kaya gitu hebat? Dasar aneh . Hebat itu kalau kita bisa terbang.”

(Anak anak yang lain tertawa mendengar perkataan Putra termasuk Bu Hana. Kemudian Bu Hana menenangkan keadaan kelas)

Ibu Hana : “ Sudah, Putra dan Nita kalian boleh berpendapat. Tetapi jangan sampai ribut.
Lebih baik kita dengarkan puisi hasil Dika. Dika, kamu mau membacakan puisi itu
kan?”
Dika : “ Baik Bu.”
Ibu Hana : “ Nah anak anak yang lain, harap tenang.”
Dika :” Cinta…
Apa sih cinta itu?
Aku tak tahu
Yang jelas semua orang pasti ingin merasakannya
Termasuk aku

Cinta itu aneh
Cinta itu misterius
Cinta itu tak diduga
Cinta itu anugerah

Aku ingin cinta
Aku ingin dicinta
Aku ingin disayang
Aku ingin perhatianmu

Tapi itu semua hanya mimpi bagiku
Ya… mengapa tidak?
Ku tak pernah merasakan semua itu
Seumur hidupku
Tapi takdir berkata lain
Sekarang aku merasakannya
Ya… merasakan cinta
Tapi bukan dicinta

Ku merasakannya
Merasakan cinta karenamu
Tapi sayang,
Aku tak pantas untukmu

Cinta …
Cinta itu memang aneh
Tak bisa ditebak
Itulah cinta menurutku

(Anak anak yang lain sangat terpesona mendengarkan Dika membaca puisi)

Ibu Hana : (Tepuk tangan) “ Dika, puisi kamu sangat indah.”(anak anak yang lain pun ikut
tepuk tangan)

 (Tanpa disadari ternyata Diandra pun menyukai puisi Dika yang sangat menyentuh. Net net net … bel tanda bubar sekolah telah berbunyi. Pelajaran pun selesai)

Ibu Hana : “ Nah anak anak, cukup sekian materi kali ini. Mudah mudahan dapat bermanfaat.
Terimakasih, assalamualaikum.”
Murid : “ Waalaikumsalam”

 (Murid murid pun keluar dari kelas, seperti biasa Diandra ini selalu semena mena terhadap orang lain.Dia menyuruh kedua sahabatnya untuk membereskan buku bukunya)

Diandra : “ Eh Kamu berdua, sini.”
Ratna dan Riska : (Menghampiri Diandra) “ Kenapa Di?”
Diandra : “ Beresin tas aku. Kamu Riska, lap sepatu aku. Gak liat apa sepatu aku kotor?”
Riska : “ Iya, maaf.”

 (Sementara Ratna dan Riska mengikuti kemauan Diandra, Nuro dan Nita memperhatikannya. Kemudian mereka menghampiri riska)

Nuro : “ Riska, bangun. Kamu gak pantas diperlakukan seperti ini.”
Nita : “ Diandra, Kamu itu punya tangan dan kaki, kenapa tidak Kamu manfaatkan. Jangan
seenaknya memperlakukan orang seperti itu.”
Diandra : “ Berisik! Hak Aku dong mau ngapain aja. Aku selalu mendapatkan apa yang Aku
Mau. Lagian mereka berdua mau aja kok disuruh sama Aku. (menengok ke arah
Ratna dan Riska) Iya Kan?”
Ratna : “ I… iya”
Riska : (Hanya diam)
Diandra : “ Ris, kenapa Kamu diem? Jawab dong. Atau Kamu gak mau disuruh lap sepatu
` Aku?”
Riska : “ Enggak kok, Aku mau lap sepatu Kamu.”
Diandra : “ (Berpaling ke arah Nita dan Nuro) “ Kalian denger sendiri kan? Mereka gak
keberatan disuruh apapun. (beranjak meninggalkan kelas)
Nuro : “ Kalian kok mau sih disuruh kaya gitu? Heran, padahal kalian itu sahabatnya Dian.
Tapi ………?” (tidak jadi bicara)
Ratna : “ Kita juga gak mau kayak gitu. Tapi kalian tau sendiri kan gimana Diandra?”
Riska : “ Ya, dia egois.”
Nita : “ Tapi kalian itu sahabatnya Dian. Apa kalian ngerasa diperlakukan layaknya
sahabat?”
Ratna dan Riska : (Diam)
Nuro : “ Sudah sudah, itu bukan urusan kita nit.”
Nita : “ Ya sudah, mari kita pulang. Ratna, Riska kami pulang duluan. Assalamualaikum.”
Ratna dan Riska : “ Waalaikumsalam.”

 (Nita dan Nuro bergegas meninggalkan Ratna dan Riska yang masih di kelas. Kemudian Ratna dan Riska menyusul Diandra)

Riska : “ Dian, tunggu kami!”

 (ketika Diandra, Riska, dan Ratna berjalan, anak anak yang lain memperhatikan diandra. Kemudian lewatlah Erna)

Diandra : (Mendorong Erna sampai terjatuh) “ Eh, Kamu gak liat apa yang lain hormat sama
Aku. Kamu seenaknya lewat di samping Aku. Nyadar diri dong! (membentak Erna)
Erna : “ Maaf Di, Aku buru buru.”
Diandra : (Pergi meninggalkan Erna sambil menginjak tas Erna dengan sengaja)
Diandra : “ Kamu semua harus ikut Aku ke mall. Aku mau belanja.”
Ratna : “ Aduh Di, Aku capek nih. Lain kali aja deh.”
Diandra : “ Aku pengen sekarang ! “
Riska : “ Ya udah, Kita bisa kok.” (sambil menyenggol tangan Ratna)

 (Mereka pun pergi ke mall. Di sana Diandra banyak membeli barang yang tidak terlalu penting. Ratna dan Riska hanya disuruh membawa barang belanjaannya)

Diandra : “ Bawain barang barang Aku!”
Ratna dan Riska : (Mengambil barang belanjaan Diandra)

 (Waktu telah menunjukan pukul 22.00 WIB, setelah merasa puas berbelanja, akhirnya mereka pun pulang. Diandra sampai di rumah pada pukul 22.30 WIB)

Ibu Yuna : “ Dari mana Kamu, Jam segini baru pulang?”
Diandra : (Pergi meninggalkan ibunya)
Ibu Yuna : (Menarik tangan Dian dan menamparnya) “ Kamu anggap mamah itu apa?”
Diandra : (Sambil menangis) “ Mamah sendiri nganggap Aku apa?”
Ibu Yuna : “ Maksud kamu apa?”
Diandra : “ Aku gak pernah disayang, Mamah gak pernah mikirin Aku. Mamah sibuk sendiri,
dan Aku gak dianggap. Aku sakit mah !”

 (kemudian Bapak Andi pun pulang)

Ibu Yuna : (Membentak Dian) “ Lancang sekali kamu Dian.”
Bapak Andi : “ Ada apa sih? Gak pagi, malam pasti ribut. Aku capek, bukannya disambut dengan
ramah, malah bikin pusing.”
Diandra : “ Sama Pah, Aku juga nyesel tinggal di rumah ini. Rumah tanpa kasih sayang.”
Bapak Andi : “ Apa yang kamu bilang Diandra?”
Diandra : (Pergi meninggalkan orang tuanya)
Bapak Andi : “ Lihat anakmu! Kelakuannya bejat. Sudah berani melawan orang tua.”
Ibu Yuna : “ Terus saja salahkan Aku.”
Bapak Andi : “ Memang semua salah Kamu. Kalau saja Kamu tinggal di rumah dan
memperhatikannya, Dia tidak akan seperti itu.”
Ibu Yuna : “ Kamu pikir Aku mau kerja banting tulang? Gak mau. Aku ingin di rumah, tapi
semuanya karena Kamu. Kalau saja gajimu bisa mencukupi kebutuhan keluarga,
aku gak mau jadi wanita karir.”
Bapak Andi : “ Seharusnya Kamu bisa ngerti. Aku itu bangkrut. Jadi harus mulai dari nol lagi.”
Ibu Yuna : “ Kita bangkrut karena ulahmu sendiri. Jadi orang jangan mudah di tipu. Pake tu
otak, jangan cuma disimpen di kepala.”
Bapak Andi : (Menampar Ibu Yuna) “ Lancang sekali Kamu. Aku itu kepala keluarga di sini. Aku
yang berhak mengatur semuanya. Kamu harus sopan sama Aku, jangan kurang
ajar.”
Ibu Yuna : “ Terus tampar lagi, semuanya aku yang salah. Puas kamu?” (meninggalkan Bapak
Andi sambil menangis)
Bapak Andi : (Merasa kesal)

# # #

 (Keesokan harinya, sekolah dikagetkan oleh penampilan Dika yang sangat berubah. Banyak anak anak yang merasa aneh melihat Dika)

Deni : (Menganga) “ Dik, ini beneran kamu?”
Erna : “ Dika . Kamu kenapa? Penampilanmu...........”
Dika : (Tersenyum) “ Udahlah Aku tahu Aku emang berubah. Tapi tenang aja sikap Aku
sama kalian gak akan berubah. Kalian sahabat terbaik buat Aku.”(tangan dika
sambil merangkul kepundak erna dan deni)
Erna : “ Tapi Kita nerima Kamu apa adanya. Aku gak masalah sama penampilan Kamu. Kita
seneng kok punya sahabat kayak Kamu.”
Deni : “Kamu kenapa si Dik?”
Dika : “ Aku gak apa apa. Tenang aja.”

 (Mereka bertiga pun masuk kelas. Di jalan, mereka bertemu dengan Diandra, Riska, dan Ratna yang sedang duduk)

Ratna : “ Weits, ada anak baru tuh. Ganteng banget.”
Riska : “ Heueuh, sangat........”
Diandra : “Siapa tuh? Kok mau maunya si jalan sama anak cupu.”
Dika :”Pagi Diandra...”
Diandra : (Merasa senang) “ Oh my god. Dia kenal sama Aku.” (kemudian Diandra mengikuti
Dika)

 (Kemudian di kelas)

Diandra : (Menghampiri Dika) “ Ehm, Kamu kenal Aku?”
Deni : “ Ya pasti lah. Kamu pangling sama penampilan Dika?”
Diandra : “ Maksud kamu, ini Dika si cupu yang suka gangguin Aku gitu?”
Erna : “ Ya Dika siapa lagi?”
Diandra : (Merasa aneh) “ Ouh, Dik soal sikap Aku yang kemarin kemarin maaf ya. Aku gak
bermaksud kaya gitu.”
Erna : “Dika udah berubah baru minta maaf. Ke mana aja kamu Di ?”
Diandra : “ Diem. Aku gak ngomong sama Kamu.”
Dika : “Diandra Diandra baru juga minta maaf kok udah kaya gitu lagi”
Diandra : “Ya ,deh sorry ‘’

 (Bel masuk pun telah berbunyi. Tetapi, karena sedang rapat tidak ada guru yang masuk. Mereka hanya di berikan tugas. Tetapi anak anak tidak menghiraukannya)

Diandra : “ Riska, Beliin Aku minum. Aku haus nih !”
Riska : “ Rat anter yu.”
Ratna : “ Ayo.”

 (Tidak lama kemudian, Riska dan Ratna kembali dengan membawa minum)

Riska : “ Di,ini minum kamu.” (sambil menyerahkan minumnya, tetapi tanpa sengaja Riska
menumpahkan minumnya ke baju Diandra)
Diandra : “ Aduh maksudnya apa sih? Kamu gak mau disuruh sama Aku. Ngomong aja kalau
gak mau disuruh jangan kayak gini dong. Rasain nih.”
(kemudian Diandra menumpahkan minuman ke baju Riska)
Riska : (Menangis)
Ratna : “ Eh Di, Kamu apa apaan sih. Riska kan gak sengaja, kok kamu kaya gitu sih. Bukannya makasih, apa kek. Malah kaya gini. Nyadar diri dong, tanpa kita kamu bukan siapa siapa. Ngerti?”
Diandra :’’maksudnya”?
ratna :’’Kita ingin dihargai Di. walaupun Kamu yang punya ini sekolah harusnya
kamu tuh sopan sama kita kita juga ,kita juga kan temen Kamu jangan arogan deh
jadi orang tuh “
 (Diandra pun hanya bisa diam dan berfikir tentang perkataan temannya)
Putra : (Putra menghampiri Kevin) “Vin,liat tuh Diandra digitu gituin sama temen
temenya?”
Kevin : “Masa bodo ahh..Aku pacaran sama Dia cuma manfaatin materinya aja asal Kamu tau itu...”
Putra : (Terkejut mendengarnya) “Apa ? Aku engga salah denger Kamu bilang kaya gitu ?”
Kevin :”Hahahahahhaaa (ketawanya ngakak) buat apa Aku bohong sama kamu,cewe kaya Dia itu gampang tau dimanfaatinnya...”
(Ternyata dari tadi Diandra mendengarkan percakapan antara Kevin dan Putra,sambil meneteskanair
mata setelah selesai mendengarkan percakapan antara Kevin dan Putra lalu Diandra pergi keluar)
 (Belpun berbunyi lalu murid murid pun pulang)
(Lalu Kevin menghampiri tempat duduk Diandra,untuk mengajak pulang)
Kevin :”Ayo Di,Kita pulang ?”
Diandra :”Siapa kamu ?” (sambil muka kesel)
Kevin :’’Aku kan cowo Kamu?’’
Diandra :’’Cowo??Aku udah tau semua kebusukan Kamu?”
Kevin :’’Maksud kamu apa?(muka serius)’’
Diandra :”Aku tahu kalau Kamu tuh cuma manfaatin harta Aku doang kan?”
Kevin :”Aku gak bermaksud gitu ,suer deh...’’
Diandra :’’Udahlah jangan ngelak ,sekarang kita putus...’’
(Sambil pergi meninggalkan Kevin yang hanya mematung)
 (Suasana di rumah)
Diandra :”Mamah Dian...pulang??kok sepi banget sih”(sambil nengok kanan kiri)
(Dindra pun langsung duduk di tempat ruang tamu)
 (Lalu handphonenya Diandra berbunyi,lalu Diandra mengangkat telepon)
Diandra :”Halloooooo....”
Kevin :”Hallo Diandra,lagi apa?”
Diandra :”Lagi Diem aja..”
Kevin :”Ohhh...”
Diandra :”Ada apa ya Vin,kamu telepon Aku ?”
Kevin :”Hmmm,Dian Aku mau minta maaf sama Kamu atas kejadian tadi..”
Diandra :”Apa ? Kamu minta maaf sama Aku.segampang itukah kamu minta maaf sama aku atas kesalahan kamu yang bikin aku sakit hati hah?”
Kevin :”Iya Aku minta maaf sama kamu Dian,kamu maukan maafin aku ?”
Diandra :”Sttoooopppppp untuk minta maaf !! kamu engga bakalan tahu perasaan aku kan ? aku sakit hati Vin digituin sama kamu...” (lalu Diandra menutup telepon dari kevin)
Kevin :”Hallo..hallo Diaann Diaann..”
(Lalu Kevin kecewa dengan sikap Diandra)
 (Keesokan harinya Kevin meminta maaf pada Diandra)
Kevin :”Diandra Aku minta maaf sama Kamu..”(sambil berlutut dan sambil memohon
mohon kepada Diandra. tetapi Diandra malah menghindar dari hadapan kevin)
 (Ketika itu,dika sedang membaca buku ditaman.tiba tiba,diandra melewati dika yang sedang membaca buku.lalu...)
Dika :”Hai Diandra..”
Diandra : “ Hai juga Dik. Ehm, boleh kan Aku nanya sama Kamu.”
Dika : “Boleh aja. Emang mau nanya apa?”
Diandra : “ Kenapa si penampilan Kamu berubah?”
Dika : “ Ehm, Di Aku suka sama kamu dari dulu. Sebenarnya Aku ubah penampilan karena
Kamu.”
Diandra : “ Jujur ya, Aku baru sadar kalau sebenarnya Aku juga suka sama Kamu. Kevin itu
bukan orang yang baik.”
Dika : “ Yang bener? Jadi kamu suka sama aku.”
Diandra : “ Ya dik. Tapi aku suka sama kamu apa adanya. Aku pengen kamu berubah lagi
kayak dulu.”
Dika : “ Kok gitu?”
Diandra : “ Bener dik. Aku suka sama kamu apa adanya.”
Dika : “ Alhamdulillah, akhirnya kamu beneran udah berubah Ya”
Diandra : “ Maksudnya?”
Dika : “ Kamu udah bisa menghargai orang lain. Aku suka itu”
Diandra : “ Ya, Aku juga merasa bersalah sama semuanya. Aku ingin minta maaf, tapi Aku
takut mereka marahin Aku lagi”
Dika : “ Tenang aja Di, Aku bakal bantu Kamu kok. Kalau gitu, Kita ke kelas sekarang.”
 (Kemudian, Diandra dan Dika pun berangkat ke kelas)
Dika : “ Teman teman, Diandra mau ngomong sama kalian semua. Ayo Di” (sambil
melihat Diandra)
Diandra : “ Teman teman aku ingin minta maaf sama kalian semua. Terutama kedua
sahabatku,Aku sadar Aku salah. Tapi Aku gak bermaksud begitu. Aku hanya ingin
mendapat perhatian dari kalian semua. Selama ini aku gak pernah mendapatkan
kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuaku. Karena itu aku selalu ingin
mendapat perhatian dari kalian. Maafin aku, tapi kalau kalian gak mau maafin aku
juga gak apa apa. Aku tau kalau kalian benci sama Aku. Aku terima kok, tapi mulai
sekarang aku akan berusaha untuk berubah.” (sambil menangis)
 (Tanpa disadari, ternyata Ibu Hana melihat dan mendengar permintaan maaf Diandra. Kemudian Ibu Hana menelpon seseorang)
(Sementara itu, suasana di kelas)
Riska : “ Iya Di, Kita tau kok sebenarnya Kamu itu baik. Tenang aja, kita gak marah kok
sama kamu. Iya kan teman teman?”
Ratna : “ Iya Di. Kita maafin Kamu kok, lagian Kita udah ngerti.”
Kevin : “ Di, Aku juga mau minta maaf sama Kamu. Kamu mau kan maafin Aku?”
Diandra : (Mengangguk sambil menangis)
Diandra : “ Teman Teman yang lain, maaf ya”
Putra : “ Tenang aja Di kita juga gak pernah sakit hati sama perlakuan Kamu”
Nita : “ Iya Di Kita udah maafin Kamu kok.”
Nuro : “ Maaf? Gampang banget kamu minta maaf (sambil memukul meja kemudian
menghampiri Diandra) Aku gak mau maafin Kamu.”
Diandra : “ Aku ngerti kok, tapi Aku harap kamu bisa ngerti keadaan Aku.”
Nuro : “ Hahaha tenang aja Di, Aku bercanda kok. Pasti aku maafin Kamu, Aku juga minta
maaf waktu itu Aku udah ngebentak kamu.”
Diandra : “ Erna Deni kalian mau kan maafin dan jadi teman Aku?”
Erna : “ Dari dulu kita emang berteman Di. Tentu saja Aku mau.”
Deni : “ Betul Betul Betul.”
(Semuanya tertawa)
 (Tiba tiba datang Ibu Hana dan orang tua Diandra)
Ibu Hana : “ Diandra ada yang mau bertemu dengan Kamu.”
Ibu Yuna : (berlari menghampiri Diandra dan memeluknya sambil menangis) “ Dian, maafin
Mamah. Mamah emang egois, tapi Mamah melakukan ini semua demi Kamu.”
Bapak Andi : “ Iya Diandra Papa juga minta maaf. Selama ini Kami lebih mementingkan diri
sendiri. Tapi kamu tenang saja, sekarang kami sudah sadar dan akan lebih sayang
sama kamu. Tentunya Papa dan Mamah tidak akan bertengkar lagi demi kamu.”
Diandra : “ Papa Mamah, kenapa ada di sini?”
Ibu Hana : “ Tadi Ibu mendengar perkataan kamu Dian. Kemudian ibu menelpon orang tua
kamu dan menceritakan semuanya. Dan mereka mau datang ke sini.”
O. T Diandra : “ Iya sayang . . . Kamu mau kan maafin kita berdua?”
Diandra : “Tentu saja Pa Mah.”
Dika : “ Nah begitu dong kan enak dilihatnya.”
Diandra : “ Makasih buat semuanya. Aku sayang kalian semua”

T a m a t
# # #
Epilog
Akhirnya Diandra pun mendaptkan kebahagiaan yang dia impikan selama ini. Sekarang mereka semua hidup dengan bahagia.
Adapun amanat dari drama ini adalah :
1. Tidak boleh sombong
2. Hidup dengan cara menghargai orang lain
3. Sayangilah orang disekitarmu

Karya : Andhiesty Choerunisa Hiswara, Aldilail Sulaiman, Ahmad Alfian, Yanti Restika, Febyan Ramadhan P, Wida Ratnasari Sudewo, Ayu Lestari Herdianti, Oki Nugraha S, Rani Nurlita Sari, Andika Prabowo, Komalasari, Rifkah Tsamrotul Fuadah, Virli Fujiani Puritea, Tami Aulia.

Sabtu, 07 Mei 2011

misteri air zam zam


Kisah air zam zam diawali dengan kisah istri dari nabi Ibrahim as, yaitu Siti Hajar yang mencari air untuk anaknya. Sumur zam zam yang sekarang adalah sumur yang digali oleh Abdul Muthalib, kakeknya nabi Muhammad.
Sumur ini memiliki kedalaman sekitar 30,5 meter, hinga menembus lapisan pasir yang sangat berpori. Belasan meter selanjutnya, menembus lapisan batuan keras yang berupa batuan beku diorit.
Dengan kedalaman dan proses bebatuan inilah air zam zam memiliki rasa yang khas dan sangat aman untuk langsung diminum (higienis).
Dari uji pemompaan sumur ini mampu mengalirkan air sebesar 11-18,5 liter/detik, hingga permenit mencapai 660 liter/menit, atau 40.000 liter per jam. Celah celah atau rekahan ini salah satu yang mengeluarkan air cukup banyak. Ada celah (rekahan) yang memanjang ke arah Hajar Aswad dengan panjang 75 cm dengan ketinggian 30 cm, juga berupa celah kecil ke arah Shaffa dan Marwa.
Kota makkah terletak di lembah, menurut SGS (Saudi Geological Survey) luas cekungan yang mensuplai sebagai daerah tangkapan ini seluas 60 km² saja, tentunya tidak terlampau luas sebagai sebuah cekungan penadah hujan. Sumber air sumur zam zam terutama dari air hujan yang turun di daerah sekitar Makkah.

Kamis, 28 April 2011

Umur kayu
Tahukah kamu bagaimana cara membaca umur kayu? Apabila kamu belum tahu caranya, di sini ada cara mudah untuk membaca umur kayu. Kalo gitu, langsung aja ya
Pada pohon yang telah ditebang terdapat banyak lingkaran pada dasar batangnya (seperti bentuk sidik jari manusia). Dengan mempelajari bentuk dan jumlah lingkaran itu kamu dapat mengetahui seluk beluk kehidupan pohon kayu tersebut. Banyaknya lingkaran tersebut menunjukan umur pohon kayu tersebut. Setiap tahun, lapisan kayu baru bertambah di sebelah luar pohon. Kamu dapat menghitung jumlah lingkaran yang berwarna tua dan muda sehingga kita akan tahu umur pohon tersebut.

Bambu
Banyak orang yang mengira bahwa bambu adalah pohon kayu. Padahal bambu adalah sejenis rumput rumputan sama seperti padi dan jagung. Berbeda dengan pohon, bamboo yang batangnya berongga tersusun dari tabung tegak mirip jarum dan berdaun runcing dengan tulang daun lurus yang sejajar satu sama lainnya. Bambu adalah tanaman yang tumbuh paling cepat di dunia. Setelah hujan lebat, hanya membutuhkan waktu 24 jam bambu dapat tumbuh setinggi 2 meter (subhanalloh).

BB


Buat kalian semua yang pengen banget tampil wangi dan bersih, aku punya beberapa tips untuk mencegah bau badan. Sebenarnya bukan tips dari aku sih, tapi tips ini dari Retno Iswari Tranggono MD. Mudah mudahan bermanfaat yaa . . .
1.       Jagalah kebersihan diri dengan baik dengan mandi secara teratur setiap hari
2.       Bersihkan daerah daerah yang memproduksi keringat yang kental (emang ada ya? Duka atuh teu apal. Kaya susu aja, susu kental)dan berminyak, seperti ketiak, puting, daerah kelamin, dan pangkal paha
3.       Rajin mencukur bulu ketiak karena bila tidak dicukur dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi pertumbuhan bakteri penyebab bau badan. Tapi akan lebih baik jika kita membersihkan bulu ketiak dengan cara dicabut, bukan dicukur. Kenapa? Karena ini sesuai dengan hadist yang telah diriwayatkan, istilahnya kita nambah amal karena telah menjaga kebersihan (hahaha, teu jelasnya)
4.       Jagalah selalu ketiak dalam kondisi kering, dengan cara selalu menggunakan deodorant dan bedak anti bau badan secukupnya setelah ketiak bersih dan kering
5.       Gunakan selalu pakaian dari bahan yang menyerap keringat dengan baik, hindari pakaian yang terlalu ketat
6.       Hindarilah makanan yang terlalu berlemak, pedas, dan memicu timbulnya bau badan yang berlebihan.
Nah itulah tips dari Retno Iswari Tranggono MD tentang cra mngurangi bau badan. Yang niat boleh dicoba , , ,

Rabu, 13 April 2011

bau badan

Buat kalian semua yang pengen banget tampil wangi dan bersih, aku punya beberapa tips untuk mencegah bau badan. Sebenarnya bukan tips dari aku sih, tapi tips ini dari Retno Iswari Tranggono MD. Mudah mudahan bermanfaat yaa . . .
1. Jagalah kebersihan diri dengan baik dengan mandi secara teratur setiap hari
2. Bersihkan daerah daerah yang memproduksi keringat yang kental (emang ada ya? Duka atuh teu apal. Kaya susu aja, susu kental)dan berminyak, seperti ketiak, puting, daerah kelamin, dan pangkal paha
3. Rajin mencukur bulu ketiak karena bila tidak dicukur dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi pertumbuhan bakteri penyebab bau badan. Tapi akan lebih baik jika kita membersihkan bulu ketiak dengan cara dicabut, bukan dicukur. Kenapa? Karena ini sesuai dengan hadist yang telah diriwayatkan, istilahnya kita nambah amal karena telah menjaga kebersihan (hahaha, teu jelasnya)
4. Jagalah selalu ketiak dalam kondisi kering, dengan cara selalu menggunakan deodorant dan bedak anti bau badan secukupnya setelah ketiak bersih dan kering
5. Gunakan selalu pakaian dari bahan yang menyerap keringat dengan baik, hindari pakaian yang terlalu ketat
6. Hindarilah makanan yang terlalu berlemak, pedas, dan memicu timbulnya bau badan yang berlebihan.
Nah itulah tips dari Retno Iswari Tranggono MD tentang cra mngurangi bau badan. Yang niat boleh dicoba , , ,

bacaanku


Hai, kali ini aku mau posting dengan kumpulan cerpen yang udah aku baca. Ceritanya seru loh . . .
Dibaca oke ? ? ?
1.                 Jangan cari pacar berjilbab (oleh chis oetoyo)
Anton duduk sambil melamun di depan rumahnya. Cowok hitam manis yang banyak di gandrungi cewek cewek di sekolah itu sedang memikrkan alia, si cewk berjilbab yang punya wajah sangat manis dan mampu membuat anton terpesona. Sementara doni dan hanung masih saja terus meledek di sampingnya. Mereka mentertawakan anton, ketika anton cerita tentang alia yang sedang diincernya.
“lo ngincer cewek berjilbab?” Tanya hanung dengan mata melotot yang bisa diartikan sebagai sebuah ledekan.
Anton nggak mau menanggapi teman temannya yang komentar macam macam. Biar saja anjing menggonggong, kafilah berlalu. Toh anton akan tetap pada tujuannya, menaklukan alia, si cewek berjilbab aktivis rohis. Anton penasaran banget, apa sih susahnya macarin cewek berjilbab? Sementara teman teman di sekolahsudah tahu dan mengenal anton sebagai playboy yang sering ganti ganti cewek. Cewek apa pun, anton bisa mendapatkannya.
“udahlah bung, jangan nyari pacar berjilbab, nyari yang biasa biasa aja, yang gak pake syarat macem macem.” Kata doni, membuat anton keki. Sifat playboynya langsung tertantang.
“udah deh, kalian jangan ngeledek gue terus. Kasih gue waktu buat ngebuktiin, kalo gue bisa jadian sama alia”, kata anton mulai panas.
“kalopun bisa, paling lo pacaran Cuma sehari doing”, kata hanung.
“setelah sehari, lo bakalan kabur gak betah dengan segala tuntutan si cewek berjilbab”, sambung doni lalu ngakak.
Besoknya anton nekat menemui alia di kantin. Di samping memang anton itu anaknya nekat, dia juga ingin membuktikan ada dua temannya yang selalu meremehkan itu. Aku harus bisa mendapatkan alia, batin anton.
Tanpa diduga, sambutan alia pada anton begitu baik. Betapa senangnya anton. Semakin percaya diri saja dia. Ia kemudian ngobrol banyak sama alia di kantin. Alia terlihat ramah dan supel. Alia sebenarnya sudah tahu siapa anton, cowok playboy yang suka gonta ganti cewek di sekolah itu. Dan alia juga sudah pernah mendengar, kalau anton sedang naksir dirinya. Makanya begitu anton mendekatinya, alia menyambut dengan ramah.


Dua hari kemudian, sekolah gempar. Khususnya anak anak rohis. Mendengar kabar yang menyebutkan alia, si anak rohis yang selama ini terkenal dingin sama cowok, tiba tiba pacaran sama anton si playboy yang suka gonta ganti cewek.
Termasuk femi, teman akrab alia. Dia juga kaget mendengar berita itu. Ia mendatangi rumah alia, karena ia ingin bicara empat mata saja dengan teman sebangkunya itu.
“pake assalamualaikum kek …”, sembur alia, begitu melihat femi yang nongol dan slonong boy masuk ke rumahnya.
“lupa…”, sahut femi asal.
“lupa kok dipelihara”
“udahlah gak penting kali”, kata femi dan langsung menarik tangan alia sampai alia nyaris terpelanting, saking kerasnya tairakn tangan femi. Alia mendelik. Tarikan tangan femi sangat kuat, melebihi kekuatan tangan tukang aduk semen.
“masyaallah fem, pelan pelan napa?”, rengut alia sambil menarik tangannya yang masih terasa sakit. Femi nyengir dan langsung minta maaf, sebelum dapat ceramah panjang dari alai. “eh, tadi kamu bilang, salam gak penting?” Tanya alia inget kata kata femi tadi. Mereka duduk di teras depan rumah alia.
“iya, iya penting. Sorry deh, lain kali aku ngucapin salam kalau datang lagi. Kali ini aku emang bener bener lagi lupa. Masa orang lupa gak boleh sih?”
“kalo setiap kali lupa, itu namanya disengaja”
“iya deh maaf, maaf…”, akhirnyafemi ngalah. “soalnya aku udah penasaran banget, pengen denger kabar dari kamu langsung tentang kabar itu. Aku sih berharap itu kabar bohong”
“siapa yang bilang ini kabar bohong? Kabar bemer kok”, kata alia membuat jidat femi berkerut heran. “aku memang udah jadian sama anton”
“alia sumpe lo?” cecar femi memperhatikan keseriusan muka alia. Alai mengangguk meyakinkan femi. Tapi femi tidak juga yakin kalo pengakuan alia itu benar. “aku masih belum ngerti cara pemkiran kamu ya, selama ini tulisan tulisan kamu di rohis sangat mengecam tentang hubungan lawan jenis sebelum menikah. Kamu bilang pacaran itu zinah, apapun alasannya. Tapi sekarang, kamu sendiri melakukan itu”
“tapi pacaran yan ini lain fem…”
“lain bagaimana? Yang namanya pacaran, pasti sama saja. bermain dengan perasaan”, kata femi denga mata membulat.
“kamu lihat saja nanti”, kata alia tersenyum. Tapi femi sama sekali tidak tahu jalan pikiran alia. Apa maksud alia dengan pacran gaya lain? Apakah ada pacaran model lain, selain pacaran seperti yang selama ini ada. Gandengan tangan, sayang sayangan, cemburu, sakit hati, bahkan sampai ada yang peluk cium segala. Masyaallah. Semoga saja yang dimaksudkan pacaran oleh alia, bukanlah yang seperti itu.


“malem minggu nih”, kata anton, ketika duduk di kantin. Tiga hari kemudian setelah jadian sama alia. Alia tersenyum di samping femi dan rahma.
“memangnya kalo malam minggu kenapa?” Tanya alia sembari mengunyah tahu non formalin. Anton gak langsung menjawab. Ia melirik kea rah femi dan rahma. Aduh, kenapa sih selalu ada dua anak itu, batin anton. Ingin rasanya ia mengajak alia duduk berduaan, tapi banyak saja alasan alia kalau diajak. Kemarin diajak duduk berdua di taman belakang sekolah, juga gak mau, katanya di belakang banyak setannya. Padahalkan, taman belakang sekolah itu, tempatnya anak anak pada pacaran.
“ih kamu ini gimana sih lya, malam minggu ya waktunya buat jalan”, kata rahma. “orang pacaran kan, pasti selalu ngarepin malam minggu, betulkan ton?”
Anton mengangguk membenarkan.
“oh, jadi orang pacaran itu kalo malam minggu jalan ya?” Tanya alia dengan wajah bloon. Padahal tanpa dikasih tahu, ia sudah paham bagaimana orang pacaran itu. Walaupun alia belum pernah pacaran. Alia sengaja bersikap kura kura dalam perahu pada anton.
“lya lya, maksud anton, mungkin ia mo najak jalan kamu, begitukan ton?” Tanya femi ikut ikutan bertanya sama anton. Anton dengan sigap mengangguk. Ia bangga pada femi yang bisa membaca situasi dan kondisi. Sayangnya mereka gak tanggap terhadap lingkungan. Seharusnya mereka pergi, kemana kek, biar gue berdua sama alia, batin anton setengah kecewa.
“gimana lya, nanti malem mau jalan?” Tanya anton menatap wajah alia di depannya, tapi alia langsung berkelit dari pandangan anton.
“memangnya mo jalan ke mana?” Tanya alia.
“ke mall”
“gimana, kalian mau gak?” Tanya alia menatap femi dan rahma bergantian. Dan anton langsung tercenung. Kenapa harus ngajak mereka ?
“ap gak ganggu?” rahma menyindir, mengarahkan pandangannya kea rah anton. Anton hanya tersenyum kecil. Ia gak perlu menjawab. Pasti rahma sudah tahu, dia bukan anak kecil lagi, sudah kelas dua smu. Sudah tahu, bagimana orang pacaran.
“kok ganggu? Ya engga lah. Kita kan jalannya paling ke toko buku, kebetulan ada buku yang mau aku beli”, kata alia. “giamana kalian mau kan?”
Femi dan rahma mengangguk ragu. Sementara anton hanya menghela napas panjang. Ternyata memacari alia tidak segampang membalik telapak tangan. Selama ini sudah banyak cewek yang ia pacari, tapi alia anknya aneh. Lain dari yang lain. Antn juga heran sama alia. Di sekolah ini hamper semua cewek cewek jomblo pada ngejar  ngejar cinta anton. Bahkan bukan hanya cewek jomblo saja, yang udah punya pacar juga suka kegatelan ngegodain anton. Tapi alia nggak tergoda sama sekali. Dia malah cuek. Itulah yang kemudian membuat anton penasaran. Apalagi 2 sahabtnya, doni dan hanung manas manasin, katanya anton gak mungkin bisa macarin cewek berjilbab.


Setengah bulan berlalu. Hubungan alia dan anton semakin dekat saja. tapi anehnya, walaupun mereka pacaran, tidak pernah yang namanya mereka jalan atau duduk berduaan. Apalagi sampai pergi nonton berdua, seperti layaknya orang pacaran. Anton mulai ragu, apakah ia harus memutuskan hubungan itu, yang baru seumur jagung, atau terus jalan, tapi dengan kenyataan tidak seperti yang selama ini dia inginkan.
“sayang, kamu lagi ngapain?” Tanya anton dari seberang begitu alia mengangkat telepon.
“kok gak pake salam sih?”
“oh iya lupa”
“ya udah, sekaarng tutup dulu ya teleponnya, coba kamu ulangi lagi”
“kok gitu?”
“cepetan”
Klik! Telepon ditutup. Satu menit kemudian gagang telepon kembali bergerak gerak dan berbunyi nyaring.
“assalamualaikum”
“waalaikumsalam, nah begitu dong kalo telepon. Kan enak didengarnya”, kata alia. “memangnya ada apa ton, malem malem telepon?”
“ah gak, iseng aja”
“iseng? Sekarang kan jam tujuh malam. Apa di situ gak denger adzan ya?”
“senger”
“trus, kenapa gak pergi ke masjid?”
“hm… anu”, anton bingung, gak bisa ngejawab. Pergi ke masjid ngapain?
“aku mau ke masjid, oh iya nanti kalau ketemu pak oman, titip salam ya, tolong bilang sama beliau, buku agamanya belum selesai aku baca. Bener ya ton, ini amanat loh, kalo gak disampein nanti dosa, assalamualaikum”
“tapi…”
Klik!
“waalaikumsalam”,. Sahut anton dengan lemas. Segera diletakannya gagang telepon. Dua hari yang lalu, alia juga bilang begitu. Amanat, hingga akhirnya anton terpaksa pergi ke masjid. Sekarang juga alia nitip pesan. Dengan langkah terburu, akhirnya anton mengambil sarung dan pergi ke masjid.
Jam empat pagi, ponsel anton bunyi. Anton mengernyit. Nomor alia ada di layar. Segera diangkatnya ponsel di atas meja belajar. Dengan mengucapkan salam yang mulai terbiasa, anton kemudian bertanya pada alia. Ini adlah kali ketiga alia nelpon jam empat pagi.
“kok nelponnya pagi pagi buta begini sayang?”
“lho, kan kamu yang nyuruh, supaya aku nelpon kamu?”
“iya, tapi gak jam empat subuh, sayang”
“ya udah, sekarang kamu belum sholat subuh kan?” Tanya alia. Anton menggeleng. Lalu telepon terputus. Anton hanya terbengong. Suara adzan di masjid dekat rumahnya terdengar ke telinga. Ia berdiri dan melangkah masuk kamar mandi.


Anton menemui alia di kantin, setelah dicarinya di dalm kelas, alia tidak ada. Mereka memang sama sama kelas 2, tapi lain kelas. Anton kelas dua tiga dan alia kelas dua satu.
“lya, sebenarnya kita pacaran gak sih?” Tanya anton, ketika duduk di depan alia dan 2 temannya. Anton memmang sengaja menanyakan ini pada alia, karena anton sudah mulai bosan dengan cara pacaran mereka selama ini. Masa orang pacaran gak pernah jalan bareng, gak pernah gandengan tangan, apalagi cium pipi, seperti yang selama ini dilakukan anton pada cewek ceweknya.
“lho, menurut kamu gimana?”
“menurutku aneh. Selama setengah bulan kita pacaran, gak pernah jalan bareng, gak pernah pergi makan berdua, gak pernah nonton, kalo aku telepon kamu gak pernah mau ngomong mesra. Rasanya aneh, baru kali ini aku ngalamin pacaran yang kaya gini”, kata anton panjang lebar.
Alia tersenyum,”ton, itulah aku. Aku memang gak sama dengan anak anak yang lian. Kalo memang kamu mau sama aku, ya kamu harus menerima aku apa adanya aku”, kata alia. Rahma dan femi asyik makan, pura pura gak denger.
Anton menghela napas. Ternate gak gampang, nyari pacar berjilbab, batin anton. Ia kembali terngiang dengan cemoohan beberapa temannya.
“percuma deh, jangan nyari pacar berjilbab, gak bakalan bisa. Cari yang lain aja, yang lebih seksi”, kata hanung manas manasin anton waktu itu. Tapi anton cuek, ia terus ngejar ngejar alia.
“lagian lo, aneh aneh, nyari pacar yang pake jilbab. Cewek berjilbab itu kan anti pacaran. Mana mau dia sama lo!” kata doni menimpali dan mendukung ucapan hanung.
Anton kembali menarik napas panjang. Tiba tiba ia berpikir tentang satu hal, yang selama ini tidak pernah ia dapatkan pada cewek cewek yang lain.
“tapi lya, tanpa aku sadari sejak jadian sama kamu, sekarang aku jadi sering ke masjid. Lalu ikutan rohis dan rajin sholat, walaupun kamu gak nelpon. Dan ada hal hal lain, yang akhirnya membuat aku sadar, bahwa ternyata hidup ini memang lebih indah kalo kita dekat sama yang di atas. Aku seperti menemukan dunia baru dalam hidupku”, kata anton dengan mata menerawang. Ia berkata jujur. Sebenarnya anton juga heran, dari mana ia mendapatkan kata kata seperti itu. Apakah pengaruh ceramah alia selama ini? Entahlah.
Alia kembali tersenyum. Ada kepuasan dalam hatinya, karena telah membuat anton berubah sekarang. Menyadrkan anton ke jalan yang baik, adalh tujuan utamanya. Walaupun dengan alasan menerima cinta anton. Mungkin dengan begitu, anton akan lebih giat mengingat kebesaran dan kekuasaan ilahi, tanpa harus mengejar ngejar cinta yang semu.
Femi dan rahma saling berpandangan mendengar pengakuan anton. Sekarang mereka baru tahu, kenapa alia mau menerima cinta anton, si cowok playboy. Ternyata ada maksud tersembunyi di balik semua itu.
Buat anton, kini ia merasa telah banyak berubah, semenjak jalan sama alia. Dan ia sudah gak perduli, apakah antara dirinya dengan alia itu pacaran atau sekeder temen deket. Ia sudah tidak memikirkan semua itu. Karena sekaran g sudah ada yang selalu dipikirkan, dia adalah Allah, pemilik cinta sejati. mungkin benar kata temen temennya, jangan cari pacar berjilbab. karena cewek berjibab tidak akan mau pacaran seperti cewek cewek lain. cewek berjilbab hanya mencintai si pemilik cinta sejati, Allah.

TAMAT

2.                  Insya allah (oleh windy)
“assalamualaikum…” salam rafika. Dilemparkan sepatu olahraganya, hamper saja menjatuhkan pot bunga ibu di teras. Dihempaskannya tubuhnya dikursi teras. Kesal.
“waalaikumsalam. Jogging ke mana neng, kok cepet amat?” Tanya ibu heran melihat fika pulang dengan bibir monyong lima senti. Beda sekali sewaktu tadi pagi ibu melihatnya begitu bersemangat jogging.
“jogging di tempat, bu. Sebel! Alia ga dating. Padahal dia yang ngajakin fika. Belagu, mentang mentang tenar di kelas. Seenaknya aja batalin” gerutu fika, cemberut.
“hush! Gak nyambung ah. Emang janjiannya gimana sih? Kok bisa gitu?”
“iya. Dia bilang mau jogging di dadaha. Terus, dia bilang gak rame kalo jogging sendiri, akhirnya dia ngajakin fika. Eh taunya dia yang gak dateng, sebel”
“lapangan dadaha itu kan luas. Mungkin aja dia nunggu di mana gitu”
                             “ah ibu, waktu fika udah nunggu setengah jam, alia kagak muncul juga.fika sms, tapi hp-nya mati terus. pas udah sejaman, baru ada balesan. Katanya sorry aku gak bisa dateng. Kirain kamu gak bakalan dateng. Huh! Fika kan udah bilang insyaallah dateng! Masa kurang jelas sih?” cerocos fika, sebal. Mulutnya makin kerucut.
“ya sudah, ibu sediakan teh tubruk dulu ya. Ada pisang goreng lho … ibu sisihkan buat yang baru jogging” goda ibu sambil masuk ke dalam rumah.
Fika yang masih kesal dengan alia, duduk di teras. Kenapa sih alia gak percaya kalau aku mau dateng ke lapangan dadaha? Dia udah kenal aku setahun lebih dan tahu kalau aku berjanji, aku pasti mengusahakannya.
Ibu muncul dengan pisang goreng di piring. Begitu pisang goreng tersedia, rafika langsung melahapnya. Satu, dua, tiga, … sampail lima potong pisang goreng berhasil hijrah dari piring ke mulut fika. Berikut teh tubruknya. Tanpa berkata kata sedikit pun, ibu tersenyum melihatnya.
“rafika, mungkin temanmu alia itu, menganggap kamu bilang insyaallah itu berarti tidak akan datang.” Ibu memulai lagi percakapan setelah dilihatnya rafika mulai tenang.
“lho, ucapan insyaallah itu kan bermakna dengan seizin allah akan datang dan dengan seizin allah juga kemungkinan fika gak bisa dateng. Berarti kita harus benar benar usahakan datang kan bu, apalagi jika tak ada halangan”
“ya, kamu benar fika. Hanya saja, masih ada orang yang menyalah artikan ucapan insyaallah. Terkadang ada juga yang setengah hati dengan janjinya, kemudian menggunakan ucapan insyaallah sebagai dalih bahwa ia bermaksud sungguh sungguh dengan janjinya. Sebagai sesame muslim kita wajib memberitahukan hal itu. Salah satu caranya dengan menjelaskan pada alia. Sdengan begitu, kemungkinan besar alia akan mengerti. Siapa tahu dia pun lambat laun akan berusaha sungguh sungguh melaksanakan ucapan insyaallah dengan sepenuh hati. Wajar saja kamu kecewa dengan sikapnya tadi. Tapi jangan langsung main labrak aja. Mungkin dia memang belum mengerti. Dibicarakan secara terbukadan dari hati ke hati, biasanya akan lebih baik dampaknya”, tutur ibu.
Rafika diam mendengarkan. Ibu tahu betul kebiasaannya kalau dia marah. Jurus jitu ibu menyuguhi makanan campilan hampir bisa dipastikan membuat amarah fika mereda. Dan setelah itu ibu pasti akan memberikan nasehatnya dan tahu pasti bahwa putrinya akan diam mendengarkannya. Rafika mengerti ke mana arah pembicaraan ibunya. Ia tak boleh cepat emosi karena itu lading amal baginya memberitahukan alia bagaimana ucapan insyaallah itu dimaknai dan dilaksanakan. Fika pun tersenyum. Dikecupnya pipi ibu.
“makasih bu”, katanya sambil beranjak dari kursi, membersihkan diri dengan mandi pagi.


Malam kamis. Fika terlihat sedang membolak balik agenda hariannya. Disitu tertulis berbagai macam kegiatan yang akan dan telah dia kerjakan baik hari kemarin, hari ini, bahkan untuk seminggu kemudian. Jadwal yang padat dan menuntut kedisiplinan dalam melakukannya. Fika duduk di sebelah telepon denga gelisah.
“kok belum tidur fika. Tumben. Udah jam 10 lewat tuh”, kata bapak mengingatkan sambil melap muka dan lehernya dengan tissue karena berkeringat.
“iya nih pak, nunggu telpon dari temen. Katanya mau nelpon male mini. Mau curhat”, kata fika.
“wah, nambah job dong. Buka biro konsultasi aja neng”, kata bapak sambil berlalu, masuk kamar.
Akhirnya sambil menunggu telpon dari temannya, fika menulis beberapa hal di agenda hariannya.
“ngerjain paper bareng ma ridha, intan, lenny, agus hari sabtu jam 2 siang. Minggu, jam delapan. Mmh apa ya? Oya, ke pasar bareng ibu. Iddih! Gitu aja ditulis ! tapi aku mau beli kado buat keponakannya santi nih. Ya udah, minggu jam delapan beli kado buat ardi. Terus…” beberapa menit berlalu, fika membuka buka majalah wanita kepunyaan ibu yang tergeletak di meja.
Fika menyeruput the tubruknya yang hangat. Lagi dan untuk kesekian kalinya. Diliriknya jam dinding dan menemukan rasa kecewanya di sana. Sudah jam 11 malam dan Olivia, teman sebangku yang tadi siang nangis bombay di kantin sekolah pas jam istirahat tadi, tak kunjung menelepon juga. Aneh, padahal tadi dia ngebet banget pengen curhat.
“fika, pokoknya kamu mesti denger semuanya. Insyaallah, jam 9 malam aku telepon kamu ya, ka. Please kamu mesti denger semuanya…” begitu katanya pada rafika sesaat sebelum bel tanda istirahat usai berbunyi. Ah, barang kali via merasa sungkan menelpon fika malam hari. Pikirnya. Akhirnya fika memutuskan menelpon Olivia, memastikan apakah ia baik baik saja.
“hallo, assalamualaikum…”terdengar suara di seberang. “waalaikumsalam”. “vianya ada tante?”
“fika ya” via udah tidur dari jam Sembilan tadi. Mau tante bangunkan? Atau barangkali ada pesan?” “oooh. Gak usah tante, biar besok aja. Assalamualaikum”, klik.
Hhhhhhhhhh! Ini lagi! Seenaknya aja. Bilang ke gak jadi telpon. Temen sendiri dikadalin. Tau gini dari tadi aku udah merem! Huh! Sebbel! Mana besok jam pertama ada ulangan fisika.
Fika membanting buku agenda hariannya ke kursi samping telepon. Keesokan harinya …
“halo fika. Cemberut aja, adaapa non?” Olivia menyapa dengan riang pada fika yang sedang manyun dibangkunya. Rupanya Olivia sudah terbebas dari segenap masalah yang mengacaikannya kemarin siang.
“lagi marah sama temen yang janji mau telpon aku jam 9 malem tadi”, jawab fika, tak menoleh sedikitpun pada via.
Mata via terbelalak, tersadar dengan janjinya kemarin.
“aduuh,sorry banget fika. Perasaan kemarin aku gak bilang janji mau telepon. Aku kan bilang insyaallah!” via coba berdalih.
Fika menatap tajam teman sebangkunya itu.
“oh, gitu ya? Gini via, setahuku namanya ucapan insyaallah itu sama dengan janji. Cuma …” fika menerangkan panjang lebar ucapan insyaallah, sampai akhirnya Olivia mengangguk angguk.
“oooh, gitu. Maaf deh” sesalnya.

Rafika tergesa gesa pulang ke rumah. Wah rifki bisa marah besar kalau dia terlambat nanti. Soalnya rafika tadi meminta rifki, kakak semata wayangnya menemaninya pergi ke rumah aki sabri di daerah kawalu, ada amanat dari ibu yang harus disampaikan pada beliau. Aki sabri itu sahabat aki rafli, kakek fika dan rifki. Meskipun aki rafli telah tiada, ibu selalu berusaha membina hubungan baik dengan aki sabri. Menjaga silaturahmi dengan beliau. Dan berhubung jadwal rifki yang super padat, fika mesti on time kalau mau dianter pake motor kakaknya.
Setiba di teras rumah, sambil terengah engah sehabis berlari begitu turun dari angkutan kota tadi, diketuknya pintu dengan tergesa.
“assalamualaikum bu, ka rifki masih ada?” sapa fika begitu ibu muncul membukakan pintu.
“waalaikumsalam. Ada apa nanyain kak rifki. Kakakmu udah pergi setengah jam yang lalu. Katanya ada temannya telpon, minta tolong nyebarinundangan pernikahan”
Fika menarik napas dalam dalam sambil memejamkan mata, demi menahan rasa marah di dadanya. Masih terngiang ngiang janji kakaknya tadi pagi sebelum fika sekolah.
“de, dari pada repot mesti naek angkot 2 kali, belon lagi mesti naek ojeg, insyaallah kak rifki anterin deh ke rumah aki sabri. Dengan syarat, abis sekolah kamu mesti langsung pulang jangan keluyuran ke mana mana oke?”
“asiiiiiik”


Jangan bersumpah kecuali dengan nama allah. Barang siapa bersumpah dengan nama allah, dia harus jujur (benar). Barangsiapa disumpah dengan nama allah ia harus rela (setuju). Kalau tidak rela (tidak setuju), niscaya lepaslah ia dari pertolongan allah.(hr. ibnu maajah dan aththusi)
TAMAT

3.                  Si pecundang (oleh rina agusmelia)
Rapat forum, menmyelesaikan LPJ baksos, anjangsana ke panti asuhan kasih ibu, rapat mendadak pecan kreatifitas mahasiswa pagi tadi, dan sekarang aku harus duduk di kelas menghadapi ujian komunikasi digital! Walaupun bukan hapalan, tetap saja dengan segudang agenda tadi aku tidak punya waktu untuk baca buku.


Hanya  tiga soal! Nomor satu teori, untung aku pernah masuk kuliah ini di awal awal pertemuan.
“pst! Pst! Nomor satu c!” ada yang menggoyang goyang bangkuku dari belakang. Aku melirik pengawas yang sedang membolak balik kitab rangkain listriknya yang setebal bantal. Cepat cepat aku menoleh dan menggeleng. Vinda langsung cemberut. Aku berusaha memutar otak, oh god! Saat pak budi menerangkan ini aku permisi ke luar.
“sudah kuliah, masa sih ujiannya masih kayak anak SMA, pake nomor ujian segala lagi, mana bisa pindah tempat duduk!” dari awal kuliah sampai sekarang nomor ujianku selalu dekat vinda yang selalu protes tentang kebijakan unik ini. Satu kelas isinya  pun hanya 20 orang.
“eh, gen! nomor 3a bisa gak?” vinda lagi lagi menggoyang bangkuku dan lagi lagi aku menggeleng.
“huh, dari awal gua nyesel punya nama genia vinda, duduk deket lu gak ada untungnya! Lu lagi pake nama geno segala, adi kek, ana kek, zaki kek, zaza kek, pokoke jangan deket deket huruf g! coba kalau ga ada lu, gua bisa duduk di belakang gadis!” vinda mencak mencak. Mendengar omelan vinda, seketika aku melirik ke kertas ujian gadis yang duduk di depanku, alamak… hampir penuh!
“eh gen! lo ada contekan ga?” vinda masih saja mengganggu, tidak satu pun memori tentang modulasi amplitude shift keying tersimpan di kepalaku.
Aku menggeleng kuat, seumur umur gak ada istilah bikin contekan. Palingan nyontek, namanya juga sibuk he he he
“lu sih gak pernah usaha, pengawas baik kaya gini gak dimanfaatin, gua udah yakin gak bisa ngandalin elu, tapi gimana lagi semalaman rumah gua kebanjiran, gak sempet bikin contekan, mana catetan gua basah lagi!”
“dis! Nomor 1c, 2b, nomor 3 sekalian!” vinda berusaha menanggil gadis sekalian ngeborong. Kalau masalah perjuangan nih anak lumayan juga padahal pak seto sudh mulai larak lirik. Anak anak lain juga pada beraksi ada yang seperti orang bisu, colek colekan, lempar kertas, tukeran kertas soal , melihat contekan, ada juga yang berani lihat buku, bisa dikatakan hanya beberapa orang yang tidk beraksi termasuk aku. Begini deh kalau pak seto dan “sebangsanya” yang mengawas. Biasanya sih sebagian besar ujian anak anak sukses.duh seperti inikah wajah pendidikan di Indonesia sekarang? (ehm!!!)
Gadis mengacungkan jempol sabil tersenyum lalu buru buru menulis jawaban di lembar soal. Soalnya udah kerjaannya gadis bagi bagi jawaban. Anaknya gak pernah buat contekan apalagi lihat buku waktu ujian, katanya sih bikin ketergantungan dan tambah bodoh.
“nih!” gadis menukar kertas soalku. Dalam hitungan detik, di depanku ada kertas soal milik gadis, full jawaban.
“salin aja!” perintah gadis, dia tahu dari tadi aku kebanyakan bengong.
“cepetan gen!” vinda mulai lagi, “salin aja, pake mikir segala!”
Salin gak ya? Aku menggaruk garuk kepala.
“gen! mo nyalin gak? Gua udah belumut nih!” sembur vinda,m “sok gengsi lagi!”
Gengsi, apanya yang gengsi? Toh di sini tidak ada yang nilainya benar benar murni.  Mungkin hanya beberapa orang, misalnya haryadi yang bener bener study oriented, no drug, no alcohol, eh sory, maksudnya no organisasi, no hura hura, no pacaran, and no apa apa selain belajar. Dan aku, aku yang termasuk punya nilai murni, karena itulah dari awal semester aku selalu menduduki tiga besar terndah di kelas.
“geno!” suara vinda meninggi. Akhirnya aku menukar kertas soal gadis dengan vinda, daripada sebntar lagi dia teriak.
“gua yakin, nilai lo semester ini gak lebih dari dua setengah, inget ya! D tujuh SKS bisa DO!” ceracau vinda mengomentari sikapku. Aku menghela napas berat. Untung kemarin cuma enam SKS yang dapat d, desahku dalam hati.
“gen, nih salin!” akhirnya setelah beberapa menit diam, vinda mulai lagi.
“makasih!” aku berusaha menolak secara halus.
“ni-lai ni-lai lo! Gua cumangingetin!” katanya penuh penekanan. Gua sih gak rugi”
Puff… kalau boleh jujur, aku bosan dapat nilai jelek, tapi bagaimana lagi kapasitas memoriku terbatas buat menghapal. Apalagi mikir rangkaian itu, teori ini teori itu, rumus ini rumus itu.
“gen, usaha dikit kenapa? Sorry ya bukan maksud gue nyinggung lo, gua piker lo tuh bukan kategori anak pintar deh!”
Ups! Vinda sudah bukan menyinggung perasaanku lagi, tapi sudah menvonis aku bodoh. Kesabaran vinda sepertinya sudah habis, dengan sigap ia memberikan contekan pada doni yang duduk di sebelahku.
Usaha! Vinda benar. Apalagi orangtuaku sudah member warning. Tidak tanggung tanggung, kalau semester IV ini IP-ku kurang dari 3, maka subsidi bulanan amblas dan biaya pulang kampung telah menanti. Daripada kuliah ngabisin uang.


“lima belas menit lagi!”
“haaa…???” suara pak seto disambut koor masam anak anak.
“yang sudah selesai silahkan dikumpulkan dan boleh keluar!” ujar pak seto seolah sengaja membuat kesenjangan social di kelas.
Reflek aku membalik lembar jawaban yang baru terisi bobot soal terendah.
Haryadi langsung mengumpulkan jawabannya dan keluar yang biasanya disusul tatapan iri dan kesal anak anak lain. Gadis dan vinda pun saling member kode dan serempak maju. Vinda sempat meletakan contekan dari gadis ke mejaku.
“udah salin aja! Gak ada yang bakalan ngelapor sama mentor lo itu!”
“geno sebaiknya jaga izzah (harga diri)!” begitulah nasehat bang indra yang paling sering aku dengar. “kita berdakwah tidak harus lewat ceramah, diskusi diskusi, kajian tapi juga dengan member contoh yang baik, termasuk ketika ujian!”
Puff… batinku semakin seru bertarung.
“lima menit lagi!” sentak pak seto.
Tidak ada yang protes karena sepertinya hanya aku yang masih bahagia melihat kertas jawaban apa adanya. Aku melirik kertas soal yang berisi jawaban yang diberikan vinda, tulisan gadis lumayan rapi. Selintas pikiran tiba tiba menyalip benakku.
“jadi jawabannya Cuma segitu?” batinku.
Lima menit kalau ngebut bisa selesai, kan sudah terlatis nulis express! Lagian siapa yang bakalan ngasih tau bang indra. Kalaupun ditanya, aku masih bisa ngeles. Sayang, jawaban udah di depan mata, gak minta lagi. Daripada nilai d bertambah, mending usaha dikit.
“SRET! SRET!”
Tidak sampai tiga menit, aku ternganga demi melihat silang besar berwarna merah nyaris memenuhi kertas jawabnku, saat aku hampir selesai menyalin jawaban nomor 3c.
Seketika aku mendongak. Dan nampaklah wajah pak bukhari, ketua jurusan, tersenyum penuh kemengangan. Lho, bukannya yang ngawas pak seto?
“siapa namanya nih?” tanyanya sambil menggerinyitkan kening, membaca tulisan cakar ayamku. “geno putra pratama? Siap dapat e untuk mata kuliah komunikasi digital?”
“yang benar saja pak?” tanyaku spontan, yang nyontek kan bukan aku saja, tidak adil dong!”
“tidak baca peraturan ujian yang baru?”
Peraturan baru apaan? Palingan peraturan berpakaian rapi, kemeja putih, celana hitam . . .
“poin lima, untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan pembentukan pribadi yang berakhlak mulia maka bagi mahasiswa yang tertangkap tangan melakukan tindakan member jawaban, meminta jawaban, atau memperoleh jawaban dari sumber illegal akan memperoleh nilai E!” pak bukhari dengan lancarnya menjatuhkan vonis itu. “dengan kata lain anda tidak lulus semester ini dan dalam rapat yusidium nanti akan dipertimbangkan apakah anda layak untuk mengulang atau di DO.”
Rabbi… kedua lututku terasa lemas…
“kalau mau jadi tikus dari kecil sudah kelihatan buntutnya, kalau mau jadi koruptor dari sekarang sudah terlihat gejalanya!” sindir pak bukhari sambil melirikku. Percuma teriak di jalanan stop KKN, anda sendiri masih seperti ini!” god, ternyata beliau ingat, dua bulan lalu aku jadi coordinator demo anti korupsi ke DPR!
“yang ingin protes silakan protes, temui saya di ruangan ketua jurusan!” katanya sambil berlalu setelah menandatangani berita acara sedangkan lembar jawabanku dibiarkan di atas meja.
Anak anak lain saling berpandangan dan diam, tidak ada keinginan untuk menyempurnakan jawaban.


Lima menit berlalu, pak seto sudah kembali, mengambil kertas jawaban dan keluar. Aku masih terpaku di tempat. Hanya dua pilihan, “DO atau mengulang!” aku pernah memperkirakan, suatu saat aku mungkin di DO karena nilai d ku. Paling tidak lebih terhormat dibandingakan di DO karena menyontek.
Perlahan aku merasakan perihnya kekalahan yang tak sadar telah kuukir dengan indah. Aku benar benar telah menjelma, menjadi seorang pecundang. Tak ubahnya seperti mereka yang selama ini melakukan hal yang kukutuk dan kubenci…
TAMAT